Menu

Globalisasi Tantangan Pelestarian Adat dan Budaya, PKK Kota Denpasar Sasar Banjar untuk Pelatihan Banten

  • Senin, 23 Oktober 2017
  • 1417x Dilihat

Perkembangan globalisasi menjadi tantangan untuk pelestarian adat dan budaya di Bali. Mengingat globalisasi ini memberikan arus informasi dan perkembangan yang sangat sulit di bendung yang juga dapat mempengaruhi adat dan budaya salah satunya dalam membuat banten untuk keperluan upacara. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, IB Alit Wiradana saat membuka pelatihan banten di Br. Ketapian Klod, Kelurahan Sumerta, Senin malam (23/10). Pelatihan yang dilaksanakan PKK Kota Denpasar mendapat sambutan antusias dari ibu-ibu rumah tangga.

Alit Wiradana menambahkan perubahan-perubahan yang ditimbulkan akibat globalisasi tersebut sudah tampak. Salah satunya untuk keperluan sesajen seperti janur, pisang dan lainnya sudah didatangkan dari luar Bali. Disamping juga sekarang ini banyak ibu-ibu lebih cendrung membeli banten dari pada membuat. Tentunya lama kelamaan akan mempengaruhi dalam pelestarian adat dan budaya yang ada. “Kami sangat senang PKK Kota Denpasar menggelar pelatihan banten yang menyasar langsung ibu-ibu di banjar. Tentunya ini selain untuk pelestarian juga melatih ibu-ibu membuat banten sesuai dengan sastra agama,” ujarnya. Untuk itu Alit Wiradana berharap pada ibu-ibu yang mengikuti pelatihan agar benar-benar mengikuti pelatihan sehingga mengetahi benar makna banten yang di buat. Terlebih lagi dalam pelatihan banten ini PKK Kota Denpasar menggandeng Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) yang telah memahami tata cara pembuatan banten sesuai dengan pakem sastra agama.

Lurah Sumerta, Made Tirana mengaku sangat senang adanya pelatihan banten yang menyasar banjar-banjar yang merupakan program PKK Kota Denpasar. “Program ini sangat bagus mengingat langsung dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya. Mengingat banten sangat dibutuhkan dalam setiap kegiatan upacara di Bali. Dengan adanya pelatihan tentunya makna dari bebantenan yang dibuat akan lebih dipahami oleh ibu-ibu. Dengan demikian banten yang dibuat tidak sekedar dibuat karena tidak mengetahui maknanya. Untuk itu Tirana berharap untuk semua peserta agar bertanya sebanyak-banyaknya tentang makna-makna banten yang dibuat. Dengan demikian dapat mengetahui dan mengetok tularkan pembuatan banten pada generasi muda.

Nara sumber pelatihan Wayan Sukerti dari WHDI ditemui disela-sela pelatihan mengatakan, pelatihan ini sangat penting bagi ibu-ibu PKK, mengingat banten hampir setiap hari dibuat oleh masyarakat. Dengan demikian diharapkan dalam pembuatan banten benar-benar sesuai dengan sastra agama. Lebih lanjut Sukerti menambahkan pelatihan ini juga sebagai ajang pelestarian budaya dan adat Bali. (Gst)