Membuat banten merupakan suatu keharusan bagi kaum perempuan Hindu. Namun seiring perkembangan jaman masih banyak perempuan yang belum dapat membuat banten sesuai sastra agama. Bahkan kebanyakan kaum perempuan dalam membuat banten masih menggunakan kebiasaan ”mulo keto”. (memang begitu). Untuk menghilangkan pamahaman tersebut PKK Kota Denpasar secara rutin melaksanakan pelatihan membuat banten. Demikian disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra yang dampingi Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. Kerti Rai Iswara saat ditemui disela-sela pelatihan membuat banten tumpeng solas di Br. Semilajati, Desa Pemecutan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Minggu (1/12). Pelatihan membuat banten yang diikuti ratusan peserta dari perwakilan ibu-ibu PKK dihadiri Plt. Camat Denpasar Utara Nyoman Lodra, Kepala Desa Pemecutan Kaja AAN Arwatha dan Kepala Dusun Br. Semilajati I Wayan Landep serta Kelian Adat setempat IB Suteja.
Lebih lanjut Ny. IA Selly menambahkan pelatihan ini untuk meningkatkan keterampilan ibu-ibu dalam pemahaman ajaran agama melalui membuat banten. Mengingat setiap banten mempunyai makna dan fungsi. “Melalui pelatihan ini kita harapkan masyarakat khususnya ibu-ibu betul-betul memahami arti dari bebantenan itu,” ujar Ny. Selly. Untuk pelatihan yang dilaksanakan juga melibatkan generasi muda melalui perwakilan sekaa teruna. Sekaa teruna yang merupakan generasi penerus diharapkan memahami secara benar makna dari bebantenan. Pelatihan membuat banten yang rutin dilaksanakan ini untuk melastarikan budaya Bali dan mendukung Kota Denpasar berwawasan budaya. Pelatihan banten ini juga untuk menyamakan persepsi tentang tata cara pembuatan banten.
Plt. Camat Denpasar Utara Nyoman Lodra mengatakan pelatihan membuat banten sebagai salah satu cara untuk melestarikan adat, budaya dan mengajegkan Bali serta mendukung visi dan misi Pemerintah Kota Denpasar mewujudkan Denpasar kota kreatif berbasis budaya unggulan. Terlebih lagi di jaman globalisasi sekarang ini pelestarian budaya termasuk membuat banten harus terus dilaksanakan dengan melibatkan generasi muda. Sehingga generasi muda sebagai penerus nantinya bisa mengajegkan dan melestarikan budaya yang telah ada. “Pelatihan banten ini juga menyamakan persepsi, dengan tidak mengurangi makna sarana upakara yang telah berjalan,” ujar Nyoman Lodra
Narasumber pelatihan banten Jero Mangku Janji dari WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) Bali dalam penjelasannya mengatakan, pelatihan ini sangat penting bagi ibu-ibu PKK khususnya generasi muda, mengingat dalam pelatihan ini akan diberikan materi pembuatan banten secara rinci. Dengan demikian diharapkan dalam pembuatan banten benar-benar sesuai dengan sastra agama. Sehingga diharapkan para peserta dapat mengetahui makna bebantenan secara benar. Lebih lanjut Jero Mangku Janji menambahkan pelatihan ini juga sebagai ajang pelestarian budaya dan adat Bali. Dalam kesempatan tersebut Jero Manku Janji memuji Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra melalui program PKK Kota Denpasar yang terus gencar melaksankan pelatihan membuat banten yang merupakan salah satu untuk memperhankan adat dan budaya Bali.
Salah seorang peserta dari Ni Luh Putu Suartini mengatakan bahwa dirinya sangat senang mendapat pelatihan membuat banten sehingga kedepannya bisa membuat banten sesuai dengan ketentuan sastra agama. Disamping itu Ni Luh Putu Suartini mengkui perhatian Pemerintah Kota Denpasar sangat tinggi dalam meningkatkan kesejateraan masyarakatnya. Hal ini dibuktikan berbagai pelatihan telah diberikan Pemkot Denpasar untuk meningkatkan keterampilan sehingga dapat membantu ekonomi keluarga. Selain pelatihan membuat banten menurut Ni Luh Putu Suartini, juga telah diberikan pelatihan membuat dupa, kue, tata rias dan keterampilan penting lainnya, sehingga keterampilan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mencari nafkah. (Gst)