KARTINI BARU DI BALI, JANGAN TERSERABUT DARI AKAR BUDAYA
Melalui pemahaman yang mendalam terhadap konsepsi nilai kepemimpinan lokal Bali yang berlandaskan ajaran agama Hindu, terbuka luas bagi wanita Bali untuk menjadi pemimpin di berbagai sektor kehidupan. Memahami secara mendalam nilai kepemimpinan lokal tersebut, memungkinkan lahirnya sosok Kartini baru di Bali, Kartini yang jangan sampai terserabut dari akar budaya yang memayunginya. Hal tersebut ditegaskan Ida Ayu Selly Mantra, SE. berkenaan dengan penyelenggaraan Diskusi Komprehensif yang diselenggarakan Koran Tokoh bekerjasama dengan Universitas Mahasaraswati di Kampus Perguruan Tinggi tersebut, Rabu, 21 April 2010. Diskusi yang berlangsung bertepatan dengan Hari Kartini tersebut membahas topik "Mengembangkan Nilai-nilai Kepemimpinan Lokal Melahirkan Sosok Kartini Baru"
Istri Walikota Denpasar, I.B. Rai Dharma Wiajaya mantra tersebut menegaskan, kendala utama penerapan nilai-nilai kepemimpinan lokal tersebut bagi wanita Bali terutama karena belum dipahaminya dengan baik prinsip-prinsip nilai kepemimpinan itu. Hal itu karena persoalan rendahnya pendidikan, dan kesenjangan pengetahuan terhadap nilai kepemimpinan lokal tersebut. Wanita Bali yang telah terdidik secara formal belum tentu telah memahami nilai-nilai kepemimpinan lokal tersebut.
Lahirnya pemimpin-pemimpin wanita pada masa lalu seperti Ida Dewagung Istri Kanya yang berperan besar dalam Perang Puputan Klungkung, Jero Jempiring yang berperan besar dalam Perang Puputan Jagaraga, dan A.A. Sagung Wah dari Tabanan yang disingkirkan ke Lombok saat melawan imperialis Belanda, disebutkan sebagian wanita Bali yang telah memahami dengan baik nilai kepemimpinan lokal di Bali. Ia memaparkan, persyaratan dan tujuan mendasar seorang pemimpin diuraikan dalam ajaran tentang Catur Pariksa, Astabratha, Pancadasa Paramiteng Prabhu, Sadwarnaning Rajaniti, Panca Naya Upaya Sandhi dan Nawanatya. Dalam Catur Pariksa, misalnya terkandung nilai kepemimpinan yang kuat yang merefleksikan tugas seorang pemimpin yang utama. Catur Pariksa dalam teks-teks Hindu juga disebut Catur Naya Snadhi. Pada mulanya Catur Pariksa tersurat dalam Epos Ramayana, di Indonesia dapat dijumpai Kakawin Ramayana.
Rumusannya, demikian paparnya, pertama "sama", mampu mengendalikan rakyat terutama kawan yang setia. Pemimpin hendaknya berbuat adil, memandang dan berbuat sama terhadap semua bawahannya. Kedua, "Bheda", mengatur atau memelihara tata tertib dan disiplin pengendali pemerintahan termasuk pemuka agama yang berbeda-beda. Ketiga, "dana", mengusahakan sandang, pangan dan papan untuk memenuhi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Keempat "danda", menghukum secara adil siapapun yang berbuat salah.
Selain menciptakan tata hubungan ke dalam dan ke luar dalam prinsip harmoni, seorang pemimpin harus mampu memelihara ketertiban dan disiplin dengan tanpa berpihak. Demikian juga dalam hak keagamaan, pemimpin harus mengayomi semua agama papar Ida Ayu selly Mantra.
Manajemen Dharma Bhakti
Alumnus Fakultas Ekonomi UNUD ini menegaskan, nilai kepemimpinan lokal Bali bukan dilandasi otoriterisme, otokratisisme maupun diktatorianisme. Dalam implementasinya kepemimpinan lokal Bali dilandasi nilai-nilai demokratis karena berlandaskan pada kepemimpinan yang menerapkan asas pengarahan, kepemimpinan pendukung, kepemimpinan partisipatif dan kepemimpinan berorientasi pada prestasi. Dengan landasan kepemimpinan demokratis, nilai kepemimpinan lokal Bali digerakkan pula asas manajemen dharma bhakti, dalam pengertian konsep yang diterapkan konsep samadharsi (keseimbangan) dalam mencapai tujuan (dharma, artha, kama, moksa). Dalam perspektif ini kepemimpinan lokal Bali senantiasa mengusahakan adanya hubungan keseimbangan yaitu antara bidang spiritual dan material dalam pemenuhan tujuan hakikat yang mencakup tataran boga, upaboga dan pariboga. Kepemimpinan lokal Bali menciptakan rasa senang hati melakukan pekerjaan yang dibebankan kepadanya, melakukan pekerjaan dengan penuh rasa pengabdian, bergairah untuk maju, dan bekerja dilakukan dengan penuh inovasi. Dengan demikian akan tercipta etos kerja, adanya profesionalisme, usaha menunjukkan performansi kerja yang bermutu, memiliki wawasan jauh ke depan (visioner), sikap mawas diri (mulat sarira) dan eling atau ngeh serta prinsip pang pada payu (win-win solutions). Dengan demikian asas kepemimpinan lokal Bali memiliki kesamaan dengan konsep-konsep yang dikembangkan kemudian dalam manajemen modern. Karena itu revitalisasi kepemimpinan lokal Bali merupakan hal yang sangat penting dalam menghadapi persaingan global, ujarnya. Sumbangsih nyata dalam implem, entasi kepemimpinan lokal Bali dapat dimulai dengan mengembangkan secara intens nilai-nilainya yang berbasis pada "ksayanikan papa nahan prayojana," menyirnakan kebodohan dan menciptakan kemakmuran.
Pemahaman terhadap konsep tersebut bagi wanita Bali mutlak diperlukan. Dengan demikian diharapkan lahir Kartini-kartini baru di Bali yang tidak terserabut dari akar budaya yang memayunginya. Nilai-nilai kepemimpinan lokal Bali dapat diterapkan dari lingkungan terkecil, yaitu lingkungan kluarga dan lingkungan yang lebih luas yaitu lingkungan kerja, ujar Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar itu.