Menyambut pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) Kota Denpasar ke-38, PKK Kota Denpasar menggelar workshop merangkai bunga dan janur serta busana dan makanan. Sedangkan untuk materi workshop itu sendiri tentang busana ada ke pura yang dibawakan oleh AAN Anom Mayun Kota Tanaya dan membuat banten saiban serta daksina oleh IB Sudarsana.
Worshop yang berlangsung sehari diikuti 400 peserta yang terdiri dari Forum Osis Kota Denpasar, PKK desa/lurah, guru-guru bimbingan konseling (BK) dan sekaa teruna Kota Denpasar yang dihadiri Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Wakil Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara dan Ny. Kerti Rai Iswara serta Ketua Gatriwara Kota Denpasar Ny. I Gusti Ngurah Gede, Minggu (29/5) di Graha Sewaka Dharma.
Ditemui usai pelaksanaan workshop, Wakil Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara mengatakan banyaknya penyimpangan dalam berpakaian adat ke pura yang tidak sesuai dengan pakem adat ke pura terutama pada anak-anak muda membuat PKK Kota Denpasar lebih gencar mensosialisasikan berpakaian adat ke pura sesuai pakem. Pada worshop kali ini juga di praktekan cara memakai kain ke pura yang benar serta menata rambut yang rapi. Penyimpangan berpakaian adat ke pura seperti mengenakan kain di atas lutut serta berpakaian kain brokat oleh kaum putri perlu mendapatkan perhatian. Sedangkan untuk kaum putra juga terjadi penyimpangan dengan mengenakain kain hampir sejajar dengan lutut. "Untuk itu kami menyasar anak-anak sekolah dan PKK desa/lurah dengan harapan dapat disebar luaskan kepada masyarakat," harapnya. Disamping itu Ny. Antari Jaya Negara mengaku sengaja mengajak guru-guru BK setiap sekolah agar turut memberikan perhatian terhadap pakaian anak-anak terutama dalam berpakaian ke pura. Melalui workshop ini diharapkan para peserta dapat menerapkan cara berpakaian sesuai dengan pakem yang ada.
Terkait dengan workshop membuat banten saiban dan daksina Ny. Antari Jaya Negara berharap adanya persamaan persepsi dalam membuat banten sesuai sastra agama. Dengan demikian dapat memahami betul bagaimana banten saiban dan daksina yang benar seperti dimuat dalam sastra agama.
AAN Anom Mayun Kota Tanaya mengatakan saat ini banyak masyarakat yang pergi ke pura tidak memakai pakaian tidak sesuai dengan pakemnya. Untuk itu diharapkan semua masyarakat mengikuti pakem-pekem pakaian ke pura sehingga tidak menimbulkan kesan negatif baik bagi yang memakai maupun yang melihatnya.
Sementara IB Sudarsana menyampaikan masyarakat dalam membuat banten saiban masih menggunakan rasa bukan sastra agama. Sehingga dalam membuat banten bisa mencapai puluhan. Padahal menurutnya sejatinya membuat banten saiban cukup dibuat untuk lima tempat yaitu talenan, pisau, sapu, pengulekan dan tempat sangian. Demikian juga dalam membuat daksina harus melambangkan alam semesta ini. (Gst)