Menu

Nonton Pragmentari Bareng Ketua Tim Penggerak PKK

  • Kamis, 18 Juni 2009
  • 916x Dilihat
Duta Kota Denpasar sukses menampilkan pragmentrai berjudul “Purnamadha” pada ajang parade gong kebyar dewasa PKB XXXI yang berlangsung di panggung terbuka Arda Candra Art Centre Denpasar, Kamis malam (18/6) yang diwakili Sekaa Gong “Swara Dharma Prawerti” Br. Pesanggaran Kelurahan Pedungan Kecamatan Denpasar selatan. Penampilan Duta Denpasar benar-benar menghipnotis penonton tidak terkecuali rombongan PKK Kota Denpasar. Hal ini dapat dilihat saat penampilan terakhirnya anggota PKK ini dibuat tidak beranjak dari tempat duduk bahkan diam terkagum melihat perpaduan musik dan tari dengan properti yang berbeda sehingga menghasilkan pentas seni yang memukau. Yang paling mengesankan, nonton bareng ibu-ibu PKK ini secara langsung ditemani oleh Ketua dan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. Selly Dharmawijaya Mantra dan Ibu Jaya Negara. "Saya mengajak semua anggota PKK untuk ikut memberikan semangat bagi Duta Denpasar yang tampil malam ini supaya lebih percaya diri", ujar Ibu Selly. Menurut Ketua Sekaa Gong Darma Prawerti I Wayan Kari mengatakan penampilan pragmentari Duta Kota Denpasar mengisahkan tentang Prabu Salya yang angkuh setelah mendapat Anugrah Kesaktian dari “Batara Ciwa”. Keangkuhan Prabu Salya ini sampai menantang Raja Pandu untuk mengadu kesaktian. Sebelum penampilan pragmentari Duta Denpasar menampilkan tabuh lelambatan kreasi nem samara metu yang diciptakan tahun 1992, oleh composer I Wayan Beratha, dan I Ketut Gede Asnawa. Tabuh lelambatan ini tetap memperhatikan uger-uger tabuh lelambatan klasik. Setelah itu dilanjutkan dengan penampilan tari kreasi banda yowana yang berarti pemuda. Tari ini diciptakan pada tahun 1987 yang mengisahkan sekelompok pemuda/remaja yang terikat dalam suatu wadah dengan mengekspresikan jiwa lewat gerak yang rampak, dinamis dengan menonjolkan estetika yang kuat. Setelah penampilan tari kreasi Duta Kota Denpasar menampilkan tabuh kreasi “Pinara Tunggah” yang mengaplikasikan konsep counterpoint yang dipadukan dengan konsep canon dalam pengertian melodi melawan melodi. Perpaduan tersebut menimbulkan evek loncatan nada yang sambung-menyambung dan saling mengisi. Karya ini di ciptakan Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya.