Meski bidang kewanitaan tidak dilombakan pada ajang Pesta Kesenian Bali ke-37 2015 ini ditingkat Provinsi, namun PKK Kota Denpasar tetap terus menggali potensi warganya melalui lomba-lamba PKB tingkat Kota Denpasar. "Ini salah satu langkah pelestarian budaya sehingga mendukung visi kota Denpasar sebagai kota kreatif berwawasan budaya," ujar Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra di temui disela-sela lomba yang didampingi Wakil Ketuanya Ny. Antari Jaya Negara dan Ny. Kerti Rai Iswara, Minggu (31/5) di Gedung Sewaka Dharma Lumintang.
Seperti saat ini PKK Kota Denpasar kembali melaksanakan berbagai lomba berkaitan PKB ke-37 yang mana pembukaan PKB di Kota Denpasar telah dibuka Sabtu lalu. Ada beberapa lomba dilaksanakan diantaranya lomba membuat canang sari, lomba membuat kwangen serta lomba berpakaian adat ke pura berpasangan tingkat SMP dan SMA. Ini merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya dengan membuat lomba berkaitan dengan upacara yang sering dibutuhkan sehari-hari.
Lebih lanjut Ny. Selly Mantra menambahkan kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk mengajarkan sedini mungkin keterampilan membuat sarana persembahyangan yang dibutuhkan sehari-hari seperti kwangen, sehingga anak sekolah pun bisa membuat sendiri sarana-prasarana persembahyangan tersebut. Meski anak-anak sudah mendapat pelajaran membuat banten dalam ekstrakulikuler di sekolah namun ini merupakan bentuk motivasi dalam mengembangkan kreativitas.
Untuk para pemenang lomba PKB tingkat Kota Denpasar akan dikirim mengikuti peserta workshop tingkat Provinsi Bali. "Kami harapkan para peserta yang dikirim ke tingkat provinsi nanti bisa menyamakan persepsi dan bisa menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti mengingat workshop provinsi tersebut di berikan oleh pakar banten," ujar Ny. Selly. "Menurut saya pembuatan canang-canang sangat penting sekali mengingat setiap hari membutuhkan canang sari tersebut," ujar Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar tersebut. Ini juga untuk menyamakan persepsi sehingga para generasi muda mengetahui benar makna dari canang yang dibuat sehingga tidak hanya berdasar pemahaman "mula keto" (memang begitu). Melalui lomba ini diharapkan generasi muda lebih mencintai dan melestarikan budaya sendiri.
Kegiatan pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui lomba. Pihaknya juga melaksanakan pelatihan banten yang menyasar warga banjar-banjar. Sedangkan pelatihan jenis banten yang diberikan disesuaikan dengan keinginan banjar tersebut.
Salah seorang tim penilai Ni Wayan Sukerti mengatakan pembuatan canang harus mengikuti pakem-pakem yang ada. Untuk pelaksanaan pakem tersebut telah dituangkan dalam kriteria pembuatan canang pengraos seperti alas berbentuk segi empat (aledan), pada sisinya diisi plekir yang berbentuk hiasan segi tiga dan pada tiap sudut diisi sebuah kojong untuk pinang, gambir, tembakau dan kapur. (Gst)