PKK Kota Denpasar terus gencar meningkatkan pemahaman masyarakat terutama ibu-ibu dan sekaa teruni dalam melestarikan budaya salah satunya untuk membuat banten yadnya. Kegiatan pelatihan membuat banten ini rutin dilaksanakan setiap tahun dan jenis banten yang diberikan dalam pelatihan sesuai dengan permintaan dari ibu-ibu di banjar-banjar. Demikian disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra yang didampingi Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara saat membuka pelatihan banten yang kali ini melakukan pelatihan membuat banten tumpeng solas, Minggu (7/9) di Br. Peken, Desa Sumerta Kaja, Kecamatan Denpasar Timur. Pelatihan selain diikuti ibu-ibu PKK juga diikuti sekaa teruni Desa Sumerta Kaja. Dalam pelatihan banten juga dilaksanakan sosialisasi pemanfaatan buah lokal untuk upacara-upacara agama oleh Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar.
Lebih lanjut Ny. Selly menambahkan pelatihan ini pada dasarnya untuk menyamakan persepsi dalam membuat banten sehingga sesuai dengan sastra agama. Dalam kesempatan tersebut Ny. Selly mencontohkan dalam membuat banten saiban seharunya hanya membuat untuk lima tempat saja. Namun masyarakat dalam membuat banten siban masih dalam jumlah banyak. Dengan contoh kecil tersebut ibu-ibu tidak lagi hanya memahami makna banten dengan "mule keto". Disamping itu kedepannya biaya untuk membuat banten akan semakin mahal, bila bisa membuat banten sendiri diharapkan dapat menekan biaya-biaya tersebut. "Kita mengetahui hampir setiap saat membuat banten, yang pasti setiap enam bulan membuat banten otonan. Minimal kami harapkan ibu-ibu bisa membuat banten otonan sendiri," harap Ny. Selly. Setelah mengikuti pelatihan banten ini para peserta diharapkan juga dapat mengetok tularkan pemahaman pembuatan banten yang benar kepada anggota keluarga lainnya yang tidak mengikuti pelatihan ini.
Sementara Kepala Desa Sumerta Kaja Wayan Purna menyambut baik kegiatan pelatihan ini yang menyasar ibu-ibu. Mengingat hampir setiap hari ibu-ibu membuat banten, sehingga perlu memahami secara benar sesuai dengan sastra agama dalam membuat banten tersebut. Kedepannya Ia mengharapkan pelatihan semacam ini agar rutin dilaksanakan mengingat di banjar-banjar akan selalu ada keluarga baru yang belum memahami tentang pembuatan banten secara benar. Disamping itu akan sangat membantu untuk lebih meringankan keluarga karena banten tersebut tidak harus membeli.
Nara sumber pelatihan Wayan Sukerti dari WHDI mengatakan dalam membuat banten hendaknya ibu-ibu lebih dahulu menghilangkan pikiran-pikiran atau perbuatan yang tidak sesuai dengan agama seperti marah-marah. Hal ini mempengaruhi banten itu sendiri mengingat akan dipersembahkan pada Tuhan. "Kami harapkan para ibu-ibu sebelum membuat banten agar menyucikan seluruh pikiran dan perbuatan dari hal-hal negatif sehingga banten yang dibuat pun menjadi suci," harap Sukerti.
Ni Nyoman Budiantari Sekaa Teruni Br. Peken mengatakan kegiatan ini sangat positif karena dapat lebih memahami makna banten tersebut. Terlebih sekarang generasi muda sudah jarang yang mau berkecimpung dalam membuat banten secara mendalam. Untuk itu kegiatan ini kedepannya lebih menyasar generasi muda sehingga ada regenerasi. (Gst)