Membuat banten merupakan suatu keharusan bagi kaum perempuan Hindu. Namun seiring perkembangan jaman masih banyak perempuan yang belum dapat membuat banten sesuai sastra agama. Bahkan kebanyakan kaum perempuan dalam membuat banten masih menggunakan kebiasaan "mulo keto". Demikian diungkapkan Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra saat membuka pelatihan membuat banten diikuti ibu-ibu PKK Banjar Benbiyu, desa Peguyangan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara di balai banjar setempat, Sabtu (20/6). Pelatihan yang berlangsung sehari dengan menggandeng Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar dihadiri juga Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara, Ketua Dharmawnita Kota Denpasar Ny. Kerti Rai Iswara serta Camat Denpasar Utara Nyoman Lodra dan tokoh masyarakat setempat yang juga anggota DPRD Kota Denpasar I Wayan Sutama.
Lebih lanjut Nyonya Selly menambahkan, melalui pelatihan banten diharapkan dapat menghilangkan kebiasaan "mula keto" dengan dapat membuat banten sesuai dengan sastra agama. "Pelatihan yang dilaksanakan oleh PKK Kota Denpasar bersama WHDI Kota Denpasar diharapkan dapat memberikan pemahaman yang benar bagi kaum perempuan terutama dalam pembuatan banten," ujarNy. Selly. Disamping itu pelatihan membuat banten juga sebagai salah satu cara untuk melestarikan adat, budaya dan mengajegkan Bali serta mendukung visi dan misi Pemerintah Kota Denpasar mewujudkan Denpasar kota kreatif berbasis budaya unggulan. Pelatihan membuat banten tumpeng solas merupakan salah satu upaya untuk melestarikan tradisi yang telah ditentukan dalam ajaran agama Hindu agar selalu dapat diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. "Banten tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita dalam berhubungan dengan Tuhan. Karena melalui sarana inilah kita berkomunikasi dengan beliau untuk memohon kesejahteraan dunia ini," ujar Ny. Selly. Oleh sebab itu pelatihan ini benar-benar sangat penting untuk mengetahui cara membuat banten secara benar sesuai dengan sastra agama "Saya harapkan usai mengikuti pelatihan para peserta bisa menggetoktularkan kepada ibu-ibu PKK lain sehingga dalam pembuatan banten benar-benar sesuai dengan sastra agama," harap Nyonya Selly.
Sementara Camat Denpasar Utara Nyoman Lodra menyambut baik kegiatan pelatihan ini yang menyasar ibu-ibu. Mengingat hampir setiap hari ibu-ibu membuat banten, sehingga perlu memahami secara benar sesuai dengan sastra agama dalam membuat banten tersebut. "Kami sangat senang pelatihan ini dilaksanakan di wilayah desa Peguyangan Kangin, mengingat belakangan ini sering ada upacara agama. Tentunya pelatihan ini sangat membantu ibu dalam pemahaman membuat banten," ujar Lodra. Kedepannya Ia mengharapkan pelatihan semacam ini agar rutin dilaksanakan mengingat di banjar-banjar akan selalu ada keluarga baru yang belum memahami tentang pembuatan banten secara benar. Disamping itu akan sangat membantu untuk lebih meringankan keluarga karena banten tersebut tidak harus membeli.
Nara sumber pelatihan Wayan Sukerti dari WHDI mengatakan dalam membuat banten hendaknya ibu-ibu lebih dahulu menghilangkan pikiran-pikiran atau perbuatan yang tidak sesuai dengan agam seperti marah-marah. Hal ini mempengaruhi banten itu sendiri mengingat akan dipersembahkan pada Tuhan. "Kami harapkan para ibu-ibu sebelum membuat banten agar menyucikan seluruh pikiran dan perbuatan dari hal-hal negatif sehingga banten yang dibuatpun menjadi suci," harap Sukerti. (Gst)