PKK Kota Denpasar Kota Denpasar terus berupaya meningkatkan pemahaman ibu-ibu rumah tangga yang juga merupakan anggota PKK dan generasi tentang makna dan arti banten yang dibuat. Untuk itu PKK Kota Denpasar dengan menggandeng Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar melakukan pelatihan banten yang kali ini dilaksanakan di Banjar Medura, Desa Sanur Kauh Kecamatan Denpasar Selatan. Demikian disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra yang didampingi Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara saat membuka pelatihan banten tumpeng solas, Kamis sore (18/6). Pelatihan yang digelar sehari ini disambut antusias oleh ibu-ibu termasuk juga Sekaa Teruna Teruni Banjar Medura hal ini dapat dilihat dari kehadiran yang memenuhi tempat pelatihan.
Lebih lanjut Ny. Selly menambahkan pelatihan ini pada dasarnya untuk menyamakan persepsi dalam membuat banten sehingga sesuai dengan sastra agama. Dengan demikian ibu-ibu tidak lagi hanya memahami makna banten dengan "mule keto". Disamping itu kedepannya biaya untuk membuat banten akan semakin mahal, bila bisa membuat banten sendiri diharapkan dapat menekan biaya-biaya tersebut. "Kita mengetahui hampir setiap saat membuat banten, yang pasti setiap enam bulan membuat banten otonan. Minimal kami harapkan ibu-ibu bisa membuat banten otonan sendiri," harap Ny. Selly. Setelah mengikuti pelatihan banten ini para peserta diharapkan juga dapat mengetok tularkan pemahaman pembuatan banten yang benar kepada anggota keluarga lainnya yang tidak mengikuti pelatihan ini.
Pelatihan-pelatihan semacam ini menurut Ny. Selly rutin dilaksanakan PKK Kota Denpasar. Selain melakukan pelatihan banten pihaknya juga mengaku telah melaksanakan pelatihan tata rias dimana kedua pelatihan ini sangat diminati oleh ibu-ibu. Kedepannya kedua pelatihan ini akan rutin dilaksanakan sehingga ibu-ibu minimal dapat membantu meringankan ekonomi keluarga.
Sementara Camat Denpasar Selatan AA Gde Risnawan menyambut baik kegiatan pelatihan ini yang menyasar ibu-ibu dan generasi muda. Mengingat hampir setiap hari ibu-ibu membuat banten, dan untuk generasi muda sebagai penerus sehingga perlu memahami secara benar sesuai dengan sastra agama dalam membuat banten tersebut. Kedepannya Ia mengharapkan pelatihan semacam ini agar rutin dilaksanakan mengingat di banjar-banjar akan selalu ada keluarga baru yang belum memahami tentang pembuatan banten secara benar.
Narasumber pelatihan Wayan Sukerti dari WHDI mengatakan dalam membuat banten hendaknya ibu-ibu lebih dahulu menghilangkan pikiran-pikiran atau perbuatan yang tidak sesuai dengan agama seperti marah-marah. Hal ini mempengaruhi banten itu sendiri mengingat akan dipersembahkan pada Tuhan. "Kami harapkan para ibu-ibu sebelum membuat banten agar menyucikan seluruh pikiran dan perbuatan dari hal-hal negatif sehingga banten yang dibuatpun menjadi suci," harap Sukerti. (Gst)