Menu

LESTARIKAN SENI DAN BUDAYA

  • Kamis, 15 April 2010
  • 424x Dilihat
LESTARIKAN SENI DAN BUDAYA
Dalam upaya melestarikan seni dan budaya serta mendukung visi dan misi Kota Denpasar mewujudkan kota kreatif berbasis budaya unggulan dan berpatokan pada kearifan lokal, Tim Penggerak PKK Kota Denpasar yang dipimpin istri orang nomor satu di Pemkot Denpasar Ny. Selly D. Mantra melakukan berbagai gebrakan. Salah satunya memimpin pergelaran tari Pendet yang diikuti oleh istri-istri pejabat teras Pemkot Denpasar sebanyak 24 orang yang dilaksanakan Minggu (18/4) mendatang di halaman Gedung Pers Ketut Nadha. Acara ini juga diisi dengan kegiatan masanggul lelunakan diikuti oleh ribuan peserta. Demikian disampaikan Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Selly D. Mantra disela-sela latihan persiapan pergelaran Tari Pendet, Rabu (14/4) kemarin di Br. Tanjung Bungkak Klod. “Kita sengaja menampilkan tari Pendet mengingat tari Pendet itu merupakan tari penyambutan sudah terkenal sejak lama”, jelas Ny. Selly. Disamping itu, melalui pergelaran ini pihaknya ingin melestarikan serta memperkenalkan kepada generasi muda kepada generasi muda tentang keunikan tari Pendet itu sendiri. Dikatakan, tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya Dewata ke alam dunia. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi “Ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung hal sakral dan religius. Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis dibawakan secara berkelompok atau berpasangan dengan menggenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya. “Mengingat tari Pendet merupakan hal sakral dan religius maka untuk itu perlu kita lestarikan”, ujar Ny. Selly D. Mantra. Penampilan ibu-ibu PKK ini diiringi penabuh Jempiring Putih Tanjung Bungkak, Denpasar. Terkait latihan yang dilakukan Ny. Selly mengaku hanya melakukan latihan tari selama dua kali. Mengingat ibu-ibu PKK yang dilibatkan sudah tahu dasar-dasar tari. Terkait dengan sesanggulan lelunakan sendiri merupakan pengembangan tengkuluk dalam bentuk yang manis dan indah, karena kain yang dipakai bukan lagi handuk, melainkan selendang. Kain selendang yang digunakan untuk lelunakan ujung-ujungnya tertata rapi serta memiliki bukaan yang lebar, sehingga lebih melindingi kepala dan mengikat rambut yang tergelung lebih erat. Lelunakan biasanya digunakan dalam upacara kematian di banjar yang dikenal dengan ngaben dengan aneka rangkaiannya.