Menu

PERHATIKAN PENYANDANG CACAT

  • Minggu, 08 November 2009
  • 404x Dilihat
PERHATIKAN PENYANDANG CACAT
Pemerintah Kota Denpasar bukan hanya memperhatikan penyandang cacat dalam bidang bantuan fisik saja. Namun kesehatan mental dan psikologisnya juga menjadi sasaran program Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar. Sebanyak 400 penyandang cacat dari sekolah luar biasa A (SLB A – Tuna Netra), SLB-B (Tuna Rungu) dan SLB-C (tuna mental/grahita) melakukan tirtayatra ke pura Tirta Empul, Tampak Siring Gianyar, Sabtu (7/11). “Tirtayatra ini sebagai bentuk perhatian kami pada kesehatan mental dan psikologis para penyandang cacat di Kota Denpasar,” jelas Ketua K3S Kota Denpasar, Ny. Selly Daharmawijaya Mantra yang didampingi Ny. Antari Jaya Negara saat mengantarkan para penyandang cacat metirtayatra. Melalui tirtayatra menurut Ny. Selly mengharapkan para penyandang cacat tidak merasa tersisihkan dalam kehidupan dan dapat beradaptasi dengan lingkungan. Metirtayatra yang baru pertama kali dilakukan untuk penyandang cacat terkait dengan Hari Ulang Tahun Penyandan Cacat Nasional yang diperingati 3 Desember mendatang. “Selain mengajak penyandang cacat metirtayatra Kami juga melaksanakan berbagai kegiatan untuk mereka diantaranya memberikan modal usaha dan memberikan bantuan berupa alat bantu yang dibutuhkan penyandang cacat seperti kursi roda, tongkat penyangga bandan dan alat bantu dengar,” papar Ny. Selly D. Mantra yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denapsar. Dalam kesempatan tersebut Ny. Selly menghimbau pada keluarga yang memiliki anggota keluarga yang cacat agar jangan disembunyikan, sehingga Pemerintah Kota Denpasar melalui K3S dan Dinas Sosial Kota Denpasar dapat memberikan bantuan pada penyandang cacat tersebut. Untuk tahun ini Ny. Selly mengaku telah menyalurkan bantuan berupa 20 kursi roda, 4 alat bantu dengar dan 4 tongkat penyangga badan. Para penyandang cacat Wayan Semita menyambut baik program Pemerintah Kota Denpasar ini. Sebagai orang yang memiliki kekkurangan dari faktor fisik tidak semua sempat bertirtayatra ke pura-pura tersebut. Untuk itu Semita mengucapkan terimakasih terhadap Pemkot Denpasar atas perhatiannya yang besar terhadap penyandang cacat. “Sebenarnya dari dulu ingin bertirtayatra namun karena kemampuan keuangan tidak memadai maka kami tidak mampu melakukannya,” jelas Semita. Bahkan Ia mengaku baru pertama kali dalam hidupnya mengunjungi pura Tirta Empul. Oleh karenanya sebagian besar peserta tirtayatra menginginkan agar kegiatan ini dapat berjalan berkesinambungan setiap tahun. Karena bagi mereka dengan metirtayatra sesama penyandang cacat bukan hanya untuk tujuan melakukan persembahyangan namun juga merupakan ajang berkumpul dan bertukar cerita kenangan masa lalu dengan sesama penyandang cacat. Para penyandang cacat tampak asyik mengobrol dan menikmati suasana usai persembahyangan.